oleh

DPP Gencar, Gelar Dialektika Tentang Kebebasan Demokrasi

-Sumsel-39 views

PALEMBANG|PencanangNews.co.id
Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gerakan Cinta Rakyat (Gencar) menggelar acara Dialektika Akar Rumput dengan tema “Demokrasi Mati, Demokrasi Bablas, Demokrasi Jalan Tengah”. Acara yang bertempat di Room Kenzo Hotel Gran Inna Daira, Kamis (3/12/2020).

Acara dihadiri Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru beserta Asisten I Akhmad Najib, Ketua DPRD Sumsel Anita Noeringhati serta juga dihadiri oleh praktisi hukum Suwito Winoto Ketua DPD Ferari Sumsel, berikut tokoh akdemisi Dr Tarech Rasyid, Rektor Universitas IBA, dan Kapolda Sumsel yang diwakili Kombes Pol Budi Sajudin Dir Intelkam.

Dalam sambutannya Herman Deru mengucapkan terimakasih atas undangan dari DPP Gencar yang malam ini menggelar acara Dialektika Akar Rumput.

“Malam ini saya mendapatkan penghargaan, saya ucapakan terima kasih mendapatkan penghargaan yang diluar dugaan saya, mudah mudahan ini menjadi cemeti bagi saya untuk berbuat lebih bagus,” kata Gubernur Sumsel.

Sementara Charma Aprianto DPP Gencar dan selaku pembawa acara memberikan waktu kepada para tokoh yang hadir untuk menyampaikan pandangan terkait demokrasi. Pandangan pertama diberikan kepada Rektor UIBA. Ia mencontohkan seperti para Buzzer bisa saja untuk mencederai nilai demokrasi. “Buzzer itu sebenarnya mencederai demokrasi,” katanya.

Menurutnya, kenapa buzzer itu kerap memberikan informasi yang mengiring masyarakat akar rumput, terutama teman buzzer yang memilik latar belakang wartawan dia mampu menghadirkan sebuah berita dan seolah-olah itu prioritas, dan seolah-olah itu benar padahal itu hoax. “Nah ini berbahaya bagi demokrasi,” ujarnya.

Sementara ketua DPRD Sumsel Hj Anita Noeringhati memaknai acara Dialektika Akar Rumput yang mengangkat tema demokrasi, adalah pembicaraan dua arah seperti yang di sampaikan ketua Gencar menyebut dirinya sebuah prodak hasil dari demokrasi.

“Demokrasi ini harus dimaknai, saya berfikir hal-hal yang tidak di inginkan itu tidak akan terjadi. Saya berharap bahwa pesta demokrasi ini harus dimaknai pesta rakyat untuk memilih pemimpinya. Bukan pesta rakyat yang karena pragmatis sehingga memilih pemimpinya arahan dan bayaran. Itu namanya bukan pesta demokrasi,” kata Anita.

Ketua DPP Gencar memberikan peluang bagi seluruh masyarakat Sumatera Selatan untuk berdialog hingga akar rumput.

“Kita tidak mengambil sebuah kesimpulan secara lisan pada malam hari ini. Kesimpulan yang kita ambil adalah secara tersirat bahwa maknanya, masih ada demokrasi yang mempunya kehidupan di republik ini,” kata Charma.

Menurutnya, kita masih bisa melakukan kegiatan-kegiatan sebuah demokrasi secara formal, dengan bersuara. Tetapi kondisinya kebangsaan hari ini memang cukup sensitif sehingga sebagian pihak mengatakan demokrasi itu mati, sebagian pihak lagi mengatakan demokrasi ini bablas.

“Mari kita kembali ke demokrasi yang menjadi ciri khas bangsa yaitu demokrasi Pancasila, demokrasi yang terpimpin,” ucap Charma diakhir acara. (Hanny)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya